Fonem – Fonem Bahasa Indonesia dan distribusi fonem


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1256553777; mso-list-template-ids:1298573488;} @list l0:level1 {mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level2 {mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:.5in; text-indent:-.5in;} @list l0:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:.5in; text-indent:-.5in;} @list l0:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.75in;} @list l0:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.75in;} @list l0:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-1.0in;} @list l0:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-1.0in;} @list l0:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:1.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.25in; text-indent:-1.25in;} @list l1 {mso-list-id:1310751303; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1359866396 147643918 761039594 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:45.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:45.0pt; text-indent:-27.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:1888908713; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1873971852 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:2036076661; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1548190780 1619565490 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan berbahasa manusia selain secara lisan juga melalui tulisan. Bunyi bahasa yang semula terwujud dalam bentuk bunyi atau suara dalam bahasa tulis, bunyi-bunyi tersebut akan terwujud dalam bentuk lambang bunyi yang disebut dengan huruf. Dalam hal itu harus disadari bahwa huruf sebagai wakil dari bunyi atau sebagai lambang bunyi tidak akan mampu mewakili secara lengkap dan sempurna.

Sebenarnya kita merasakan perbedaan dalam bunyi bahasa, namun kita pun tahu bahwa perbedaan itu tidak penting secara tidak sadar sebenarnya bunyi yang banyak dan berbeda-beda itu telah kita kelompokkan dalam suatu satu kesatuan dalam bunyi yang penting untuk menandai perbedaan-perbedaan arti itu. Selanjutnya, kesatuan bunyi itu kita sebut fonem, atau dengan kata lain fonem adalah kesatuan bunyi terkecil yang membedakan arti.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang muncul adalah :

a. Apa sajakah fonem-fonem Bahasa Indonesia?

b. Apa sajakah yang termasuk distribusi fonem?

1.3 Tujuan

Dari masalah diatas tujuan dari tulisan ini adalah untuk memperdalam pengetahuan mengenai jenis-jenis fonem yang ada di Indonesia.

1.4 Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang, masalah dan tujuan diatas, ruang lingkup dalam tulisan ini hanya membahas tentang jenis-jenis fonem.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Fonem-fonem Bahasa Indonesia

Sebelum ditemukan sejumlah fonem dalam bahasa Indonesia terlebih akan dirumuskan mengenai pengertian tentang fonem. Fonem adalah unsur bahasa yang terkecil dan dapat membedakan arti atau makna (Gleason,1961: 9). Berdasarkan definisi diatas maka setiap bunyi bahasa, baik segmental maupun suprasegmental apabila terbukti dapat membedakan arti dapat disebut fonem.

Setiap bunyi bahasa memiliki peluang yang sama untuk menjadi fonem. Namun, tidak semua bunyi bahasa pasti akan menjadi fonem. Bunyi itu harus diuji dengan beberapa pengujian penemuan fonem. Nama fonem, ciri-ciri fonem, dan watak fonem berasal dari bunyi bahasa. Adakalanya jumlah fonem sama dengan jumlah bunyi bahasa, tetapi sangat jarang terjadi. Pada umumnya fonem suatu bahasa lebih sedikit daripada jumlah bunyi suatu bahasa.

Berdasarkan kenyataan, ternyata di dalam bahasa Indonesia hanya ditemukan fonem segmental saja, dan bunyi suprasegmental tidak terbukti dapat membedakan arti. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia tidak ditemukannya fonem suprasegmental. Itulah sebabnya dalam kajian berikut ini hanya dibicarakan fonem segmental bahasa Indonesia yang meliputi fonem vocal, fonem konsonan, dan fonem semi konsonan.

2.1.1 Fonem Vokal

Ada lima dalil atau lima prinsip yang dapat diterapkan dalam penentuan fonem-fonem suatu bahasa. Kelima prinsip itu berbunyi sebagai berikut :

  1. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila berada dalam pasangan minimal merupakan fonem-fonem.
  2. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila berdistribusi komplementer merupakan sebuah fonem.
  3. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila bervariasi bebas, merupakan sebuah fonem.
  4. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, yang berada dalam pasangan mirip merupakan sebuah fonem sendiri-sendiri.
  5. Setiap bunyi bahasa yang berdistribusi lengkap merupakan sebuah fonem.

Di antara kelima dalil diatas, hanya tiga buah dalil yang merupakan dalil yang kuat, yaitu dalil (a), (b), dan (c). dalil (d) dan (e) merupakan dalil yang lemah.

Ada sejumlah pengertian yang harus dipahami didalam dalil-dalil atau didalam prinsip-prinsip diatas. Pengertian-pengertian yang penulis maksudkan , yaitu:

1) Bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip

Dasar yang dipakai untuk menentukan apakah bunyi-bunyi itu mirip secara fonetis ataukah tidak ialah lafal dan daerah artikulasi bunyi itu. Bunyi-bunyi yang dapat dikatakan mirip secara fonetis adalah sebagai berikut :

a) bunyi-bunyi yng lafalnya mirip dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [p] dan [b].

b) bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berdekatan. Misalnya, bunyi [b] dan [d].

c) bunyi-bunyi yang lafalnya jauh berbeda dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [b] dan [m].

d) bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berjauhan. Misalnya, bunyi [m] dan [n].

2) Pasanan Minimal

Pasangan minimal merupakan pasangan dua kata dasar yang artinya berbeda, jumlah dan urutan bunyinya sama, dan didalamnya hanya berbeda satu bunyi. Dari sebuah pasangan minimal hanya dapat diperoleh dua fonem. Misalnya, gali [gali] – kali [kali] adalah pasangan minimal dan dari pasangan minimal ini diperoleh dua fonem, yaitu /g/ dan /k/.

3) Distribusi Komplementer

Bilamana dua bunyi dikatakan berada dalam distribusi yang komplementer atau yang mempunyai distribusi yang komplementer? Untuk dapat mengetahui hal ini, perlu dilihat tempat kedua bunyi tersebut berada. Tempatnya dapat ditentukan dengan melihat jenis bunyi yang mengapitnya atau dapat juga ditentukan dengan melihat jenis suku tempatnya berada. Selanjutnya, yang perlu diperhatikan ialah bahwa kedua bunyi tidak pernah saling tukar tempat. Artinya, kalau bunyi yang satu selalu diapait oleh bunyi desis, maka bunyi yang satunya lagi selalu diapait oleh bunyi yang bukan desis. Apabila dua bunyi telah dapat dibuktikan tempatnya seperti ini, mak berarti kedua bunyi itu berada dalam distri busi komplementer atau keduanya berdistribusi komplementer. Demikian pula, kalau ada dua bunyi yang satu selalu ditemulan pada suku terbuka yang satunya lagi selalu ditemukan pada suku tertutup, maka berarti kedua bunyi itu berada dalam distribusi yang komplementer.

5 Tanggapan to “Fonem – Fonem Bahasa Indonesia dan distribusi fonem”

  1. wikanpribadi Says:

    nice info to share, but need more word example i thinks

  2. Ary Says:

    hal-hal yang esperti ini sangat berguna bagi kemajuan SDM negara kita. tingkatkan dengan sharing masalah keilmuan yang lainnya.

  3. emperordeva Says:

    @ Arya : Terima kasih banyak atas pujiannya

  4. emperordeva Says:

    @ damn : oui juga…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: